Pada pertemuan mata kuliah Teknologi Komunikasi pada 14 Maret 2016 kemarin, Saya mendapatkan beberapa pengetahuan baru tentang media baru dengan komunitas atau yang biasa kita sebut dengan ‘Virtual Community in New Media’. Sebelumnya saya dan kelompok mendapatkan tugas untuk me-review chapter 2 karangan Nicholas W. Jankowski yang berjudul Creating Community with Media: History , Theories and Scientific Investigations dalam Handbook of New Media. Pada penjelasan yang ada di chapter ini ternyata new media terdiri dari tiga sketsa periode sejarah, yaitu gelombang pertama dari studi masyarakat dan media, kemudian gelombang kedua masyarakat dan media elektronik, dan yang terakhir adalah era internet. ‘New media’ ini pun dinilai dapat mengubah pola masyarakat, seperti interaksi masyarakat dimana berkembangnya zaman dan teknologi semakin maju dalam berinteraksi atau berkomunikasi, yaitu salah satunya dengan berkembangnya internet. Selain dapat mengubah pola masyarakat ‘New media’ juga berperan dalam terbentuknya virtual community yang menimbulkan beberapa efek dalam kehidupan manusia.
Di era yang telah maju ini kita seakan telah dimanjakan dengan hadirnya ‘new media’ dalam kehidupan. Komunikasi virtual tidak dapat lepas dari sebuah media internet yang menggunakannya sebagai alat komunikasi. Orang-orang sudah tidak perlu repot lagi dalam berkomunikasi, karena tanpa tatap muka pun kita juga masih bisa berinteraksi meskipun dalam jarak yang sangat berjauhan mau dengan siapa saja, kapan saja dan dimana saja dengan dibantu oleh jaringan internet. Internet sendiri merupakan kumpulan dari jutaan komputer di seluruh dunia yang terkoneksi antara yang satu dengan yang lain. Setelah terhubung dengan internet kita dapat melakukan beberapa hal, misalnya : mengirim dan menerima email, chatingdengan media text atau suara, melakukan video call dan masih banyak lagi.
Pengertian Virtual Community
Pencetus istilah komunikasi virtual untuk yang pertama kalinya adalah Rheingold. Melalui bukunya mengenai The Virtual Community Homestanding on the Electronic Frontier(2000). Lalu, apakah ‘virtual community’ tersebut? virtual community merupakan sekumpulan individu yang memiliki minat yang sama. Virtual community ini biasanya beranggotakan kelompok atau masyarakat di dunia online. Kumpulan ini memiliki kebutuhan yang sama pada sebuah minat tertentu. Komunitas ini menjadi wadah untuk berkomunikasi yang nyaman bagi anggotanya untuk bersosialisasi online. Individu yang bergabung pada komunitas virtual ini pun sangat beragam. Di dalam virtual community pihak yang terlibat cenderung memiliki suatu identitas baru untuk berinteraksi sesamanya. Banyak kegiatan yang dilakukan oleh para anggotanya selain bisa menambah banyak teman, informasi terkini, bahkan setiap anggotanya bisa mencari pacar atau seseorang yang bisa dia kenal lewat virtual community.
Setelah saya mengetahui makna dari virtual community ini maka yang muncul dalam benak saya adalah mungkin pada masa mendatang akan tercipta sebuah dunia virtual masa depan yang mana memungkinkan setiap orang meminimalisasi pergerakan dan perpindahan. Ia memungkinkan orang melakukan segala aktivitas, pertukaran dan transaksi sosial. Manusia seakan menganggap dunia nyata ini tidaklah seasyik pada dunia virtual. Bisa saja suatu saat nanti manusia akan merasa bosan dengan dunia nyata yang lebih virtual daripada dunia virtual itu sendiri maka manusia akan menciptakan dunia sendiri agar merasa nyaman.
Perbedaan komunitas dunia nyata dan dunia virtual
Jika pada komunitas dunia nyata atau ‘Organic Community’ masing-masing anggota berinteraksi dengan bertatap muka guna mengenali karakter masing-masing individu, berbeda lagi dengan virtual community yang melakukan aktifitas tanpa adanya pertimbangan waktu dan tempat karena mereka hanya berhubungan lewat dunia maya dan dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja. Kebutuhan bertemu itu justru muncul karena dirasa setelah sekian lama komunitas virtual itu berjalan tapi sesama mereka tidak tahu ‘bentuk’ masing-masing anggota, karena itu lah kemudian diadakan gathering komunitas.
Setelah kita mengetahui penjabaran tentang virtual community, disini saya akan memberikan contoh bentuk nyata dari virtual community tersebut. Pada saat ini wanita berhijab atau yang saat ini lebih kita kenal sebagai hijaber sudah sangat banyak. Hijaber kekinian pun sudah bukan hanya dikalangan para remaja lagi namun ibu-ibu pun kini telah tampil modis dan fashionable. Gaya hijab saat ini tidak hanya bermain dengan kreasi jilbab, namun juga pakaian yang semakin beraneka ragam. Begitu modern dan cantiknya gaya hijab ini sehingga banyak wanita yang senang menggunakannya. Para hijaber kekinian itu pun saat ini lebih suka untuk memposting gaya berhijabnya ke sebuah akun media sosial dengan tujuan agar dapat menginspirasi para hijaber lainnya. Hal inilah yang menimbulkan sebuah komunitas baru pada situs web tertentu yang memiliki kesamaan minat dan tujuan yang sama. Contoh nyata nya dapat kita lihat dari sebuah situs web www.diaryhijaber.com yang merupakan sebuah wadah hijaber tanah air untuk dapat berkreasi dan berbagi dengan sesama hijaber lainnya. Pada situs web ini para hijaber tanah air bisa mendapatkan berbagai informasi tentanglifestyle dan tutorials dalam berhijab, events, photo contest, sharing corner, serta motivasi islami. Saya yang hidup di era ‘new media’ ini pun juga ikut andil dalam kemudahan berinteraksi dengan sesama hijaber lainnya. Awalnya saya bergabung dengan situs ini karena salah satu postingan foto di instagram saya di tampilkan pada akun instagram diary hijaber. Kemudian saya pun membuat akun pada website www.diaryhijaber.com guna berbagi pengalaman dan lain sebagainya. Komunitas ini tidak hanya berinteraksi melalui social media namun diary hijaber juga mengadakan gathering / meet greet and share sesama komunitas yang dihadiri oleh perkumpulan masing-masing anggota di kota besar Indonesia. Situs web diary hijaber pada terakhir saya akses pun telah diikuti oleh 7.688 member yang berada di 228 kota Indonesia. Namun virtual community ini tidak hanya memiliki dampak positif. Selain memberikan kita wadah baru dalam berkenalan dengan orang yang sebelumnya sama sekali tidak kita kenal, komunitas virtual pun juga memiliki kesulitan jika para anggota sedang tidak dalam suatu pemahaman yang sama. Misalnya karena perbedaan waktu dan tempat serta mood orang satu dengan lainnya bisa berbeda, terkadang menimbulkan beberapa konflik yang terjadi akibat pengkomunikasian yang dilakukan hanya melalui via teks. Hal-hal yang demikian bisa menimbulkan konflik baik internal manejemen maupun dengan anggota. Konflik ini bisa berakibat macam-macam; dari kapoknya anggota mampir di forum, pencabutan diri dari komunitas hingga putusnya tali silaturahim yang sudah terbina.
Sumber : http://elgaflorentina.blogspot.co.id/2016/03/virtual-community-untuk-hijaber-pada.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar